PERBEDAAN PENDEKATAN TEOLOGI DAN FILOSOFIS
Teologi
terdiri dari dua kata, yaitu theos yang berarti Tuhan dan Logos yang berarti
Ilmu. Jadi teologi adalah ilmu tentang Tuhan atau ketuhanan. Secara
terminologi, teologi adalah ilmu yang membahas tentang Tuhan dan segala sesuatu
yang terkait dengannya, juga membahas hubungan Tuhan dengan manusia dan
hubungan manusia dengan Tuhan.
uraian
di atas, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan pendekatan teologi adalah
cara pandang atau analisis terhadap masalah ketuhanan dengan menggunakan
normanorma agama atau simbol-simbol keagamaan yang ada. Dengan kata lain,
pendekatan teologi cenderung normatif karena keyakinan teologi (keagamaan) menjadi
norma dalam melihat suatu fenomena. Teologi atau agama menurut Atang Abd Hakim
dan Jaih Mubarak3 mengandung dua kelompok ajaran. Pertama, ajaran dasar yang
diwahyukan Tuhan melalui Rasul-Rasul-Nya kepada masyarakat manusia. Kedua,
penjelasan-penjelasan para pemuka atau pakar agama yang membentuk ajaran agama.
Sebagaimana
telah dijelaskan di atas bahwa teologi adalah ilmu yang membahas tentang Tuhan
dan manusia serta hubungan manusia dengan Tuhan, meskipun pembahasan ini
bersifat normatif. Teologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang memenuhi
kriteria saintifik, yaitu penggunaan akal dengan segala kemampuan analisisnya,
generasiasinya, serta hukum-hukum penarikan kesimpulan induksi dan deduksi
terhadap data-data pengalaman. 4 Dengan cara ini bisa diperoleh hukum-hukum dan
prinsip-prinsip yang mendasari dan mengaitkan fakta dan fenomena yang disajikan
serta menyatukan seluruh isi pengalaman ke dalam satu sistem yang koheren
secara keseluruhan. Sebagai salah satu ilmu pengetahuan agama, teologi juga
menggunakan metode transenden yang terjadi dalam empat tahap; mengalami,
memahami, menilai dan memutuskan. Pengalaman merupakan data keagamaan, pemahamn
berarti menghayati maknamakna, penilaian akan mencari dan mengukuhkan kebenaran
dan keputusan adalah pengakuan terhadap nilai-nilai (agama) yang diterima
sebagai suatu fenomena yang perlu diperhatikan oleh setiap pemeluknya.
Dalam
pembahasan ini, penulis menampilkan upaya yang dilakukan oleh para islamolog
Barat, seperti Hans Kung yang banyak mengkaji tentang Islam. Dalam berbagai
karyanya ia menggunakan pendekatan teologis, yang bertolak dari perspektif
teologi Kristen dalam melihat Islam, tetapi perspektif teologi tersebut tidak
digunakan untuk apologis melainkan untuk dialog antara Islam dan Kristen. Kung
menyajikan pandangan-pandangan teologi Kristen dalam melihat eksistensi Islam
mulai dari pandangan teologis yang intoleran sampai pada pandangan yang toleran
yang mengakui eksistensi masing-masing. Dalam melengkapi komentarnya,
pertanyaan teologis yang diajukan Kung adalah apakah Islam merupakan jalan
keselamatan? Pertanyaan ini menjadi titik tolak untuk melihat dari teologi
Kristen. Kung mengemukakan beberapa pandangan teologi Kristen, misalnya Origan
Ciprian dan Agustinius yang mengatakan bahwa “ekstra galensiam nulla sulus”,
artinya ada keselamatan di luar gereja.
Selain
Kung, pendekatan teologis dialogis juga digunakan oleh W. Montgomery Watt.
Hakekat dialog menurut Watt sebagai upaya untuk saling mengubah pandangan
antara penganut agama yang saling terbuka dalam belajar satu sama lain. Dalam
hal ini, Watt bermaksud menghilangkan sikap merendahkan agama seseorang oleh
penganut agama lain, serta menghilangkan ajaran yang bersifat apologi dari
agama masing-masing. Upaya ini dapat dilakukan melalui kerjasama antar pemeluk
agama. Langkah pertama terciptanya kerjasama tersebut, menurut Alwi Shihab,
kedua belah pihak dituntut bersama-sama mengoreksi citra dan kesan keliru yang
selama ini tergambar dalam benak masing-masing pemeluk agama. 5 Bahwa terdapat
perbedaan fundamnetal antar ajaran agama adalah hal yang tak dipungkiri. Oleh
karena itu, perlu adanya dialog, namun hendaknya dialog antar pemeluk agama
tersebut tidak diarahkan kepada perdebatan teologi doktrinal yang selalu
berakhir dengan jalan buntu.
Menyadari
bahwa secara fitrah manusia membutuhkan agama, dan agar agama yang dianutnya
dapat memberi jaminan ketenangan, keselamatanm dan kebahagiaan, maka setiap
penganut harus menggunakan beberapa pendekatan dalam memahami agama agar tidak
terjadi benturan antara penganut agama yang satu dengan penganut yang lainnya.
Pendekatan tersebut adalah pendekatan teologi normatif, dialogis dan
konvergensi.
Pendekatan
teologi dialogis ini akan memperkaya pemahaman antara pemeluk agama. Islam
misalnya dapat membantu agama lain untuk memberikan penjelasan tentang
keyakinan dan amalan yang kadang-kadang dianggap kurang berguna, demikian juga
ummat Islam dapat emgambil manfaat dan mencontoh kegiatan Kristen dalam
pekerjaan-pekerjaan sosial. Demikian pula antar satu agama dengan agama lain
dapat meneladani hal-hal yang positif selama tidak mencampuradukkan
prinsip-prinsip aqidah dari masing-masing agama tersebut.
NAMA : NUR SAKINA HASIBUAN
NIM : 0402192015
DOSEN PENGAMPU : FADHILA SYAM, M.AG
Komentar
Posting Komentar